barcelona

FIFA Bereaksi Infantino Kembali Menekankan Pentingnya VAR

fifa

Hasil pertandingan luar biasa antara FC Barcelona dan Paris Saint German (PSG) pada leg kedua 16 besar Liga Champions di Camp Nou, Rabu (8/3), membuat FIFA bereaksi. Presiden FIFA Gianni Infantino memuji comeback luar biasa Barca dalam pertandingan itu sekaligus membuat sejarah dalam turnamen tersebut

Tetapi Infantino juga menyoroti detail jalannya pertandingan yang memunculkan insiden insiden kontroversial. Dalam hal ini FIFA kembali menekankan pentingnya VAR (Video Assistant Referee) atau video pembantu wasit. VAR ini merupakan tayangan ulang yang bisa meminimalkan kesalahan dari wasit dalam pengambilan keputusan.

Kendati demikian, Infantino menolak mengomentari penalti kontroversial karena pelanggaran terhadap Luis Suarez yang menyebabkan gol kelima untuk Barca. Setelah pertandingan itu banyak dilaporkan kejanggalan dari keputusan wasit asal Jerman, Deniz Aytekin. Selain penalti untuk PSG ketika Javier Mascherano handball didaerah sendiri.

“Dalam hal ini saya tidak tahu apakah itu jelas sebuah kesalahan atau tidak. Tetapi di amsa depan bila ada kesalahan yang jelas, ini akan di koreksi oleh VAR, sehingga dapat memastikan pertandingan yang tidak diputuskan oleh kesalahan yang dibuat dengan itikad baik wasit,” ujar Infantino.

Berkaca dari pengalaman hasil pertandingan kemenangan 6-5 Barca atas PSG, pria 46 tahun itu juga mengingatkan, bahwa pembuat peraturan sepak bola dalam hal ini Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) harus berhati hati.Karena segala ketentuan jalannya pertandingan berasal dari IFAB.

Infantino tidak membantah apabila pertandingan di Katalunya lalu sebuah pertunjukan sepak bola yang luar biasa. Itu menunjuakan bahwa sepak bola merupakan olahraga yang benar benar fantastis.

“Kami harus benar benar berhati hati dalam IFAB, jika kami menyentuh peraturan. Karena sepak bola adalah sebuah permainan yang luar biasa,” ucap Infantino.

Terkait hal itu wasit aytekin bisa mendapat sanksi dari UEFA. Menrut laporan MARCA, kepala wasit UEFA Pierluigi Collina, akan membuat keputusan untuk Aytekin. Collina bertanggungjawab dalam menugaskan pejabat untuk pertandingan liga Champions dan Liga Eropa bersama kolaboratornya.

Berdasarkan konfirmasi UEFA yang diberikan kepada MARCA kebijakan itu merupakan cara Collina dalam meminimalkan kesalahan dari tim perangkat  pertandingan. Hanya, UEFA kemungkinan tidak akan memberikan sanksi berat kepada Aytekin. Meskipun penurunan level bisa dijatuhkan kepada wasit 38 tahun itu. Aytekin sendiri baru naik ke level elite UEFA pada 2014/15 lalu.

Barca Pesta, Enrique Cedera

Enrique

Barcelona menjadi tim pertama yang yang mampu membalikan keadaan setelah tertinggal empat gol di liga champions. Tak ayal,Luis Enrique yang telah menyatakan musim ini sebagai musim terakhirnya melatih Lod Azulgrana, melakukan selebrasi dilapangan setelah peluit panjang, dan timnya mencatat agregat 6-5 atas Paris Saint German, Rabu (8/3).

Namun ia tak mempersoalkan cederra dibagian ligamennya itu, dan justru menegaskan kegembiraannya mengalahkan rasa sakit dilututnya. “Saya memang mengalami cedera di ligamen saat masuk ke lapangan, tapi ini tetap saja bukan hal sia sia,” katanya di depan pers.”Saya menjatuhkan diri dengan lutut. Tidak apa-apa,sebab saya dapat melihat bahwa masih banyak (penggemar ) yang belum berhenti untuk percaya kepada kami.”

Kegembiraan besar Enrique pun tak lepas dari catatan brilian Barca bersamanya. Kini klub Katalunya tersebut mencatat rekor lolos keperempat final Liga Champions untuk kali ke 10 secara berturut turut. Kali terakhir mereka absen di babak perempat final adalah musim 2006/07, setelah kalah dari Liverpool. Tumbang 1-2 di Camp Nou, Barca yang saat  itu dilatih Frank Rijkaard gagal membalikan kedudukan meski di Anfield sempat mencetak satu gol lewat Eidur Gudjohnsen.

Selama 10 musim ini Barca pun lolos ke semifinal sebanyak empat kali pada 2008,2010,2012,dan 2013. Tiga kali diantaranya berakhir dengna gelar Liga Champions pada 2009, 2011, dan  2015. Sepanjang periode itu Barca hanya tereliminasi di perempat final dua kali, tepatnya saat menghadapi Atletico Madrid pada 2011 dan 2016.

Dengan remontada atas PSG,Barca juga memperpanjang kemenangan beruntun di kandang sendiri di ajang Liga Champions sejak ditangani Enrique. Sebelumnya, rekor kemenangan terbanyak mereka hanya sembilan kali beruntun yang terjadi pada 2009/10 dan musim 2010/11. Rekor itu terhenti dengan hasil 1-1 saat lawan Real Madrid di leg kedua semifinal yang memastikan Barca lolos ke Wembley.

Catatan 15 kemenangan yang dicatat Barcelona asuhan Enrique sejatinya telah dimulai setelah era Gerardo Martino yang diimbangi Atetico 1-1 di perempat final Liga Champions 2013/14. Itu menjadi catatan imbang pertama sejak kekalahan sebelumnya di Camp Nou pada ajang Eropa tersebut, 0-3, saat menghadapi Bayern Munchen di semifinal 1 Mei 2013.

Enrique sendiri melihat catatan tersebut adalah hasil dari keyakinan timnya.”Apa yang paling mewakili hasil malam ini adalah keyakinan,” kata pelatih  Madrid dan juga Barcelona itu. “Di atas semuanya, ini adalah kemenangan karena keyakinan. Keyakinan itu diperlihatkan pemain, dan juga ditunjukan oleh penggemar. Saya hanya pernah melihat suasana di stadion seperti ini sekali, dan itu hanya saat saya masih jadi pemain.”

Pelatih itu menjelaskan juga kenapa ia terlibat sangat gembira hinga tanpa sadar membuat dirinya cedera. “Biasanya, dalam 10 menit terakhir, orang orang sudah meninggalkan stadion, tapi kali ini mereka tidak melakukan itu, tetap di tribun hingga laga berakhir, kalau pun ada yang tetap pergi sebelum selesai pertandingan, mereka kehilangan sebuah momen bersejarah. Ini malam spesial bagi kami,” katanya lagi.

Lebih lanjut, dia juga sempat menyebutkan rencananya untuk mengadakan pesta bersama timnya, untuk merayakan rekor dan sejarah yang baru dicatat. Namun dia menegaskan, rencana itu terpaksa dibatalkan karena pasukannya harus kembali bekerja, melakukan persiapan menghadapi pertandingan La liga di kandang Deportivo La Coruna, akhir pekan ini.